Di Awal Tahun Premi Turun, Asuransi Jiwa Berharap dari Dampak Positif Pemilu

Premi asuransi jiwa Indonesia mengalami penurunan pada awal tahun. Namun demikian, penentuan lazim (Pemilu) dipercayai jadi segi yang mampu menambah kinerja asuransi dikarenakan banyaknya duit beredar.

Berdasarkan informaasi dari Otoritas Jasa Keuangan, industri asuransi jiwa mencatat penurunan nilai premi jadi Rp29,18 triliun pada Februari 2019 dibandingkan premi pada Februari 2018 senilai Rp32,86 triliun. Capaian selanjutnya jauh lebih rendah ketimbang perkembangan premi asuransi jiwa pada akhir 2018 yang hanya 1,20% atau Rp186,05 triliun dibanding premi pada 2017 senilai Rp183,84 triliun.

Penurunan juga berlangsung pada hasil investasi Februari 2019, hasil investasi asuransi jiwa turun sampai 29,20% jadi Rp5,65 triliun secara tahunan. Kendati masih menurun, hasil investasi udah memperlihatkan angka positif sejak Desember 2018 yaitu Rp6,62 triliun, anjlok 86,14%  (year on year).

Perbaikan kinerja ini sejalan bersama indeks harga saham paduan yang cenderung menguat sejak akhir tahun lalu. Hal itu juga diikuti bersama mulainya perusahaan untuk membuat perubahan alokasi investasi ke instrumen yang bersifat jangka panjang, seperti obligasi pemerintah.

Pada tahun lalu, kinerja hasil investasi tetap merosot akibat penurunan harga pasar untuk saham dan reksa dana sebagai efek perang dagang global. Sekitar 33,87% dana kelolaan sektor ini ditempatkan di reksa dana. Sebesar 32,9% lainnya dialokasikan ke saham.

Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu mengatakan penurunan premi pada awal tahun ini merupakan hal yang biasa terjadi. Asosiasi udah memprediksi kenaikan premi asuransi jiwa raih 10%—20%. Dia juga meyakini premi baru bakal semakin meningkat, ketimbang premi lanjutan. Hal ini juga sejalan bersama inovasi yang ditunaikan oleh sejumlah perusahaan asuransi.

“Satu tahun ada 12 bulan, nanti pasti bakal naik. Kira-kira dua digit. Peristiwa yang berlangsung seperti kampanye saat ini berarti banyak duit yang beredar. Justru itu bakal menambah premi, terutama April,” ujarnya, Jumat (12/4/2019).

Dimulai pada awal tahun ini, asosiasi menghimbau pemain asuransi jiwa untuk memperbanyak produk premi regular dan tidak mengandalkan single premium.

“Bahwa itu masih ada masih ada, tidak masalah. Bukan berarti salah. Namun ada baiknya dikombinasi bersama produk lain yang sifatnya reguler sehingga penduduk pilihannya lebih banyak,” katanya.

Salah satu yang jadi kegelisahan asosiasi adalah kinerja hasil investasi. Namun, didalam peristiwa penentuan umum, justru dia meyakini hal ini bakal jadi pemicu kenaikan minat penduduk untuk berinvestasi.

“Dalam pemilu 2014, didalam satu hari rekor pertama kali Rp4 triliun masuk ke pasar saham pas presiden terpilih. 2019 bakal lebih tinggi dari itu,” lanjutnya.

Click to comment